Posted in Novel Mandarin, Novel Terjemahan, Romance

The Stolen Years (Ba Yue Chang An)

IMG_2716

Judul Buku : The Stolen Years
Penulis : Ba Yue Chang An
Penerjemah : Jeanni Hidayat
Penerbit : Penerbit Haru
Cetakan : Pertama, Januari 2016
Tebal : 348 halaman
Peresensi : Ira Marby

Benarkah waktu dapat mengikis perasaan cinta?

He Man mengalami kecelakaan dan ketika tersadar dari koma-nya hal terakhir yang diingatnya adalah bahwa ia sedang berbulan madu dengan suaminya, Xie Yue.

Nyatanya He Man sudah bercerai 6 bulan yang lalu. Akibat dari kecelakaan tersebut Ia mengalami amnesia dan lupa akan 5 tahun terakhir kehidupannya.

He Man mulai mengumpulkan memori dan kenangannya yang berserakan dan susah payah ia satukan. Mengapa ia dan Xie Yue bisa bercerai, hingga bagaimana mungkin ia bisa bertengkar hebat dengan sahabat karibnya.

Namun perjalanan mengumpulkan kepingan ingatannya membawa He Man menemukan sisi lain dari hidupnya yang tak pernah ia duga.
__________________________________________

Sebelum membaca full tadinya saya mengira-ngira, apa buku ini mirip dengan film Before I Go to Sleep ya ceritanya (film Before I Go To Sleep diadaptasi dari novel dengan judul yang sama). Ternyata setelah dibaca kisahnya berbeda, walau tokoh utamanya sama-sama amnesia.

Kadang kalau saya lelah sama alur cerita suatu buku, mau ngga mau saya harus ngeluarin jurus lama untuk keluar dari penderitaan tersebut, jurus skipping. Nah, lagi-lagi, karena kadung suudzan sama sinopsisnya, tadinya saya kira bakal skip-skip baca buku ini, ternyata betah baring manis sambil nangis­čśé

Bukunya lumayan bikin baper. Terbukti dibeberapa bagian bikin saya meneteskan air mata, apalagi bagian ending-nya, air mata plus ingusan. Duh sedih ternyata. Apa karena tentang pernikahan ya, jadi terbawa perasaan.

Hubungan He Man dan Xie Yue meninggalkan pesan pada kita bahwa setelah menikah justru setiap pasangan wajib menjaga dan memelihara hubungan tersebut dengan ragam cara yang baik agar pernikahan tetap terisi dengan cinta yang senantiasa bersemi, tidak berujung pada rasa hambar seumur hayat atau bahkan berujung perpisahan.

Dengan segala kekurangan tokoh-tokohnya, saya tetap kagum dengan keteguhan hati He Man ditengah kebencian semua orang padanya, bahkan termasuk suami dan sahabatnya, dan juga kesabaran dan kelapangan hati Xie Yue ditengah kebenciannya pada mantan istrinya.

Jadi inget pesan Ustadz Salim A. Fillah beberapa tahun lalu di suatu kajian munakahat, beliau berkata, Jika di dalam rumah saja sudah tidak ada telinga yang mendengarkan, maka siap-siap telinga-telinga diluar yang akan mendengarkan. 5 stars.