Posted in Fantasi, Fiksi, Middle Grade, Novel, Novel Terjemahan

Inkheart (Cornelia Funke)

Inkheart“Kan kau sendiri yang selalu bilang, buku pasti berat, karena seluruh dunia ada didalamnya.” (page 27)

Judul buku : Inkheart (Tintenherz)

Penulis : Cornelia Funke

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Penerjemah : Dinyah Latuconsina

Cetakan ke-4 September 2009

Hal : 536 lbr

SINOPSIS

Ayah Meggie – Mo – memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran tokoh-tokoh ini ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia di dunia nyata.

Sembilan tahun yang lalu, Mo membaca Tintenherz. Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat buku itu, dan membuat ibu Meggie lenyap karena masuk ke buku. Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, lantas menculik Mo karena ingin Mo memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz. Termasuk sang Bayangan, monster menakutkan yang akan bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh Mo mengeluarkan harta dari berbagai buku untuk membiayai kejahatannya di dunia ini.

Situasi makin rumit karena Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya!

REVIEW

Kalau tidak menahan diri, mungkin hampir seluruh tulisan ini dipenuhi quotes. Yes! So many words in this book are so quotable. Inkheart adalah buku pertama dari Trilogi Inkworld. Selain quotable, banyak sekali pengetahuan tentang dunia per-buku-an yang saya dapatkan dari membaca buku ini. Mungkin karena hal itu juga, sekalipun bukunya 500 halaman lebih, saya tetap sabar membacanya. Karena tidak hanya diajak mengikuti petualangan Meggie dan Mo, tapi dapat bonus informasi dunia buku juga.

Ada beberapa tokoh penting yang membangun cerita di buku pertama ini :

Mo (Mortimer Folchart). Ayahnya Meggie. Seorang kutubuku. Meggie menyebut Ayahnya sebagai Dokter Buku, sebenarnya Mo seorang penjilid buku-buku langka. Mo kehilangan istrinya karena tidak menyadari kekuatan dirinya yang bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari dalam buku.

Meggie. Kurang lebih sama seperti Ayahnya untuk urusan buku. Seorang remaja kutubuku yang sangat dekat dengan Ayahnya. Dibalik ke-kutubuku-an-nya itu ternyata tersimpan jiwa yang pemberani.

Staubfinger. Bisa dibilang Funke berhasil membangun karakter tokoh yang satu ini. Tokoh yang memendam kepedihan mendalam dibalik kemisteriusannya. Staubfinger adalah pemakan api yang tidak sengaja dikeluarkan Mo saat membaca buku Tintenherz, bertukar tempat dengan istrinya Mo.

Gwin. Musang bertanduk peliharaan setianya Staubfinger.

Elinor Loredan. Bibi dari Istrinya Mo. Seorang kayaraya yang eksentrik. Pengoleksi buku-buku langka, dan sangat-sangat mencintai buku-buku tersebut. Hampir seluruh dinding rumahnya dipenuhi buku. Si-Sangat-Judes yang baik hati. Dibalik koleksi kata-kata judesnya itu tersimpan kasih sayang pada Meggie, Mo dan Resa.

Resa (Theresa). Istri Mo. Ibu Meggie. Terperangkap di dunia Tintenherz selama sepuluh tahun. Peran Resa mulai muncul dipertengahan buku.

Capricorn. Ini dia biang dari segala biangnya. Penjahat Tintenherz yang dikeluarkan Mo dari buku Tintenherz yang kemudian berambisi untuk menguasai dunia Mo.

Fenoglio. Penulis buku Tintenherz.

Basta dan Si Pesek. Anak-anak buahnya Capricorn yang setia. Salah satunya nanti berakhir tragis.

Mortola. Kepala Pelayan Capricorn yang judes dan jahat. Saat Fenoglio bertemu Meggie nanti akan diketahui siapa sebenarnya Mortola.

Farid. Tokoh dicerita 1001 Malam yang tidak sengaja dikeluarkan oleh Meggie.

Darius. Memiliki kemampuan yang sama dengan Mo. Tapi karena disiksa terus oleh Capricorn bikin Darius jadi gagap, sehingga tokoh-tokoh yang dikeluarkannya tidak sempurna.

Semua tokoh-tokoh diatas dibangun Funke dengan baik sekali. Masing-masing memiliki sumbangan besar dalam membangun cerita Inkheart. Sekalipun tokoh itu cuma seekor musang bertanduk seperti Gwin. Ada dua tokoh favorit saya dalam buku pertama ini, yaitu Elinor dan Staubfinger.

Elinor yang judes, ternyata memiliki hati yang baik. Belum lagi membayangkan perpustakaannya, duh, iri sekali. Sedangkan Staubfinger sendiri, dibalik sikapnya yang sinis ada pribadi lembut yang penyayang. Kepedihan dan kerinduannya terhadap kampung halaman menjadikannya membungkus diri dalam kata-kata sarkas. Saya paling seneng nyimak Staubfinger dan Elinor kalo lagi beradu mulut. Atau Elinor lagi beradu mulut dengan siapapun. hihi…

Sekalipun dibawa ke petualangan ajaib dan menegangkan, pada bagian akhirnya termasuk datar menurut saya. No klimaks. Saya bahkan ga sadar saat petualangan Meggie sudah berakhir, sampai bolak-balik ke halaman sebelumnya, khawatir ada yang ketinggalan. Udah nih ya? Kira-kira begitu perasaan saya.

By the way, buku ini sudah difilmkan dengan bintang utama Brendan Fraser. Ada beberapa tokoh yang jadi berbeda difilmnya. Terutama Darius. Difilmnya Darius kelihatan konyol dan gemuk, padahal aslinya dibuku tragis banget. Kisahnya juga sedikit berbeda, tapi ga banyak. Filmnya ga jelek kok. Malah saya nonton filmnya dulu baru baca bukunya. Urusan cover, untuk kali ini (lagi) cover yang versi Indonesia lebih keren menurut saya 😀 lebih antik.

Buku ini saya beri 5 bintang karena sukses bikin saya tetap sabar menikmati kata-katanya 😀

Advertisements

Author:

Fulltime Bookworm | Wife | Mom of Two | Lifetime Learner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s