Posted in Islamic Books

Hajj with Love (Soraya Dimyathi & Yon Machmudi)

IMG20150210092035

“…faktor yang paling menentukan untuk terealisasikannya ibadah haji adalah faktor niat. Kemauan kita untuk mengorbankan kekayaan dan semangat untuk menyisihkan uang agar segera menjadi tamu Allah. Allah lah yang akan membuka jalan selebar-lebarnya.” (hal 18)

Baca buku ini bikin saya nostalgia kembali dengan perjalanan haji dengan ibunda saya 4 bulan yang lalu, bikin rindu. Sebenernya beli bukunya sebelum pergi haji september lalu, tapi baru sempet dibaca sekarang (__!)

Hajj with Love adalah sebuah memoar perjalanan Haji Soraya Dimyathi dan Yon Machmudi yang disampaikan dengan ringan tapi bikin yang baca terinspirasi, saya yakin, kalo baca buku ini yang muda-muda jadi kepengen banget daftar haji selagi muda 😀

Dengan tagline : Berhaji Saat Muda, Berkah Saat Tua, kedua penulis mengajak pembaca mempelajari kembali “faktor mampu” yang selama ini menjadi momok bagi sebagian orang untuk pergi berhaji. Benarkah faktor mampu ini menjadi “syarat utama”.

“… haji itu tidak identik dengan uang. Nyatanya, banyak orang kaya yang tidak naik haji. Sebaliknya, ternyata banyak juga orang miskin yang berhaji.” (KH. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren di Rembang)

Artinya, memang haji itu membutuhkan biaya, tapi tidak serta merta yang kaya bisa naik haji dan si miskin tidak bisa berangkat haji bukan? (page 17)

Tidak itu saja, kedua penulis juga membagi pengalaman mereka dari awal sekali, dari niat ingin mendaftar haji hingga ketika kaki mereka telah menjejak di tanah suci. Pun bagaimana perjuangan mereka mengumpulkan uang untuk pelunasan biaya haji.

“Kami merasakan betapa Allah tak segan-segan turun tangan membantu kami. Banyak pintu rezeki dibukakan untuk kami….” (hal 26)

Banyak sekali bagian-bagian di buku ini yang bikin saya jadi semangat untuk nabung haji, yang kali ini saya berharap bisa pergi dengan Suami (aamiin..). Beberapa bagian lainnya bikin nangis ketika membacanya, kangen sekali dengan Makkah dan Madinah. Dan bagian lainnya mirip dengan pengalaman saya, salah satunya dibagian ketika saya harus meninggalkan Anak dan Suami (sewaktu didaftarkan haji oleh orangtua, saya masih berstatus anak gadis ayah 🙂 )

Rasanya berat sekali ketika meninggalkan mereka berdua, apalagi beberapa sebelumnya saya dan suami baru kehilangan putra kedua kami, Arman Abdullah. Rasanya hati ini campur aduk, antara bahagia yang luar biasa tapi juga perih.

“Alhamdulillah, Allah memang tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kekhawatiran selama memenuhi panggilan-Nya. Selama jauh dari orangtuanya, anak-anak ternyata lebih mandiri dan pintar-pintar. Hal yang kami takuti tidak pernah terjadi, mereka sehat-sehat selalu. Bahagianya kami melihat mereka lebih segar dan tambah besar. Allah mendengar doa-doa kami.” (hal 42)

Begitulah, ternyata hari pun tetap berjalan menyenangkan dan penuh haru selama saya disana, bukan berarti tidak rindu dengan keluarga, tapi memang ternyata Allah menjamin setiap tamu-Nya selama di rumah-Nya.

Karena disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mengalir, buku ini benar-benar menggerakkan hati (saya) dan suami untuk segera mengalokasikan setiap pundi untuk perjalanan haji, walau tertatih-tatih, ya Allah kuatkanlah hati-hati kami 😥

Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian memaksakan diri untuk melakukan perjalanan kecuali kepada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.” (Shahih Bukhari)

Advertisements

Author:

Fulltime Bookworm | Wife | Mom of Two | Lifetime Learner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s