Posted in Fantasi, Fiksi, Novel

The Darkest Mind #1 (Alexandra Bracken)

tdm fix

The Darkest Mind merupakan buku pertama dari Trilogi The Darkest Mind, Never Fade, dan In The After Light.

Resmi jadi buku penutup tahun 2014. Di antara buku tentang dunia distopia yang saya baca, The Darkest Mind memiliki nilai tersendiri bagi saya, ceritanya beda. Selain itu, yang bikin saya buru-buru beli karena di sampulnya tertulis “SEGERA DIFILMKAN OLEH 20TH CENTURY FOX”, jadi kemungkinan besar covernya berubah, dan saya ga suka buku dengan cover film, apa deh alasannya :p

Buku ini bercerita dengan menggunakan one point view, Ruby, tokoh utama kita. Alur nya maju mundur. Jadi saya yang kadang baca suka skipping :p mau ga mau harus sedikit fokus bacanya. Buku ini ga banyak menye-menye langsung ngajak pembacanya ngos-ngosan ngikutin aksi Ruby dan teman-temannya.

Dimulai ketika Ruby terbangun tepat pada ulang tahunnya yang ke 10. Tak ada yang berubah sampai ia turun menuju dapur rumah dan menyapa ibunya. Tapi apa yang terjadi? Si Ibu tak mengenalnya, sama sekali! Begitupun Ayah Ruby.

Ruby kemudian dibawa ke kamp Thurmond, sebuah kamp rehabilitasi milik pemerintah dimana-mana anak-anak dengan kemampuan “Psi” dikarantina.

Jadi ceritanya pada masa itu anak-anak entah bagaimana menginjak usia 8 – 10 tahun terkena “penyakit” yang disebut IAAN (Idiopathic Adolescent Acute Neurodegeneration). Anak-anak IAAN memiliki kemampuan tertentu dan dibagi menjadi 5 kategori warna.

Hijau memiliki kemampuan ingatan fotografis yang kuat. Kuning, kemampuan mengendalikan listrik. Oranye, kemampuan mengendalikan pikiran orang lain. Biru, kemampuan menggerakkan benda-benda. Dan Merah, kemampuan mengendalikan Api.

Kategori yang dianggap pemerintah tidak berbahaya adalah Hijau. Ruby, seorang Oranye. Dan dengan kemampuan oranye-nya ia berhasil mengelabui petugas dan berhasil mengkamuflase dirinya sebagai anak Hijau, sehingga dia lolos dari pemberangusan anak-anak oranye dari muka bumi ini.

Saat dimasukkan ke Thurmond, Ruby telah mengetahui kemampuannya. Tapi yang ia ketahui baru sedikit. Ruby sama sekali tidak mengetahui kemampuan besar yang tersembunyi dalam dirinya.

Petualangan Ruby dimulai ketika pada suatu hari saat gotong royong kamp, Dengung Statis (sebuah dengung yang hanya bisa didengarkan anak-anak IAAN) dihidupkan, ia terkapar tak berdaya dan pingsan dengan telinga berdarah-darah. Dengung Statis ada levelnya, dan kali ini sengaja dibunyikan untuk level anak-anak oranye, biru atau merah. Untuk anak hijau dengung ini tidak terlalu ngefek, cuma mual-mual dan sakit kepala. Tapi Ruby? Ruby Bukan Hijau. Untungnya kedok Ruby sebagai seorang Oranye tidak terbongkar.

Ruby diselamatkan oleh Cate, seorang Agen Liga Anak yang menyamar menjadi Dokter Rumah Sakit tempat ia dirawat pasca Dengung Statis dihidupkan.

Namun ketika akhirnya menjadi pelarian bersama Cate, Martin (satu lagi anak oranye yang berhasil diselamatkan), dan Rob (seorang agen Liga Anak juga), Ruby memilih keluar dari grup itu sebelum sampai ke markas besar Liga Anak.

Ruby lari dan malah bertemu dengan sekelompok anak yang sedang mencari lokasi East River, mereka adalah Chubs, Zu (Kuning), Liam (Biru) yang pada akhirnya menjadi kekasih Ruby. Tapi apa daya, setelah apa yang terjadi dengan orang tuanya akibat kemampuannya, Ruby memilih menjaga jarak dengan Liam, walaupun sangat ingin berdekatan.

Oya East River itu semacam tempat aman untuk anak-anak IAAN yang tersisa, dipimpin oleh Slip Kid yang misterius. Tapi ternyata setelah sampai di East River tempat itu tidak seperti bayangan mereka. Dan kejutan! Slip Kid ternyata orang yang selama ini mereka kenal tapi diluar bayangan mereka. Slip Kid memiliki rahasia dan kekuatan yang besar. Dengan kemampuannya ia menggunakan Ruby untuk melawan pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Grey.

Pelarian pun dimulai lagi. Perjuangan untuk menggapai kehidupan yang layak bagi mereka semua masih panjang. Pilihan paling buruk akhirnya diambil Ruby untuk menggapai itu semua. Pokonya cerita buku ini banyak tentang adegan pelarian yang bikin kita ikutan ngos-ngosan juga 😀 Syukurnya Ruby, Liam dan Chubs bukan tipikal orang-orang yang gampang menyerah, bahkan ketika berada diposisi titik nadir kehidupan mereka.

“Tapi buat apa hidup tanpa sedikit masalah?” – Liam (Lee) Stewart

Advertisements

Author:

Fulltime Bookworm | Wife | Mom of Two | Lifetime Learner

One thought on “The Darkest Mind #1 (Alexandra Bracken)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s